Audio Play

Selasa, 01 Juli 2014

Orang-orang Beriman di Akhir Zaman

Percayakah Anda bahwa dosa dan pahala, kenyataannya sungguh-sungguh tak hanya dilimpahkan di akhirat. Namun juga di kehidupan nyata yang sedang kita jalani ini. Kerapkali organ badan kita dibakar dalam api neraka?
Terdapat fenomena yang marak aksi-aksi untuk menyadarkan sekelompok orang agar segera saja beriman kepada Tuhan seketika itu juga. Bahkan, kalau perlu dengan menggunakan cara-cara yang memaksakan diri.
Bawa pentungan untuk dipentungkan misalnya. Pesan yang ingin disampaikan barangkali jika dibentuk dalam format kalimat, mungkin semacam ini: ayo cepatlah dan sekarang sajalah kalian sadar. Dan jadilah sekumpulan orang beriman!
Dengan cara-cara demikian mereka berpikir sekelompok orang akan segera beriman dan sontak bersujud kepada Tuhannya dengan serta-merta. Seketika. Tetapi memang sungguh. Cara-cara demikian itu sudah lama ditinggalkan oleh Tuhan.
Ini fakta luar biasa. Bagi saya, entah menurut Anda. Bahwa Tuhan itu ada, bahwa akhirat itu nyata, sudah disadari dan dimengerti secara umum. Tak ada hal-hal baru. Sudah banyak orang yang mengetahuinya. Sudah bukan mengungkap hal rahasia.
Sudah menjadi pengetahuan umum! Termasuk bahwa Tuhan sudah menanggalkan cara-cara menegur hamba-hamba-Nya dengan cara-cara yang biasa Dia lakukan di era Nabi-Nabi terdahulu: Nabi Nuh dengan banjirnya, Nabi Musa dengan tongkatnya, atau Nabi Luth dengan gempanya.
Tetapi memang sungguh. Ini tetap menarik hati dibincangkan. Dan menurut saya, hal-hal umum yang sudah bukan rahasia lagi, biasanya tidak serta merta diikuti oleh pemahaman yang layak. Makanya, tidak sedikit orang mengetahui sesuatu, tetapi hanya tahu saja. Selebihnya, ia hanya tahu. Tidak menjangkau kesadaran puncak. Makanya, seberapa banyak kumpulan petuah, hanya segelintir yang mau mengambilnya kecuali hanya masuk telinga belaka. Ini benaran kejadian.
Begini, mula-mula disebutkan bahwa segala sesuatu itu tergantung fakta dan rasionalisasinya. Dan konon, di zaman para Nabi terdahulu, kesadaran hanya akan tercapai sempurna bila ada kekuatan mukjizat di dalam dakwahnya, batu tiba-tiba menjadi sekumpulan roti misalnya. Atau, bagaimana seekor kodok lalu mendadak menjadi kupu-kupu, barulah sekumpulan umat menjadi segolongan orang beriman.
Tetapi di zaman Nabi Muhammad ini, justru sebaliknya. Sekumpulan kodok yang dadakan jadi kupu-kupu belum tentu mampu memberimankan seseorang. Sebaliknya, alih-alih menjadi hamba-hamba yang beriman, yang terjadi mereka malah datang dengan sekumpulan rasa penasaran dan berondongan pertanyaan: apa iya ada kodok tahu-tahu menjadi kupu-kupu? Boleh jadi, mereka akan masuk ke dalam perpustakaan dan bisa bertahun-tahun di dalam laboratorium.
Demikianlah. Tetapi itulah uniknya. Umat zaman ini memang aduhai. Mereka beriman bukan oleh sebab keajaiban. Tetapi oleh sebab akal-pikirnya. Aneh sekali bukan? Tentu sangatlah aneh. Coba Anda tengok kejadian bencana alama akhir-akhir ini.
Lemparan sekumpulan batu api yang dimuntahkan oleh Gunung meletus, apakah mampu menjadikan seseorang beriman? Ia justru mendatangkan sekelompok peneliti. Mereka justru mendatangi tempat asal batu api dimuntahkan. Inilah kaidah keimanan di zaman modern sekarang. Padahal kerap disebutkan di dalam kitab suci, lemparan batu api kerap diberikan kepada sekelompok hamba-hamba yang enggan beriman.
Ah, terlalu bombastis saya kita bicara soal bencana. Marilah kita berbincang soal keseharian saja yang bisa wawasan baru soal pahala-dosa, neraka-surga di zaman baru umat manusia ini. Karena di setiap saatnya kita mengalaminya dalam keseharian, tetapi kita cenderung tak menyadari berlangsungnya proses tersebut.
Alasan kita memiliki atau menyimpan beberapa koleksi kebencian, dendam, iri hati dan dengki, sesungguhnya disebabkan karena kita pernah atau sempat telah diperlakukan secara kurang adil, merasa disakiti oleh pihak lain. Sehingga merasa punya alasan cukup kuat untuk membenci, mendendam, merasa perlu untuk menyimpan iri hati dan dengki.
Kemudian kita merasa berhak untuk melakukan pembalasan agar pihak lain tersebut merasakan hal yang sama dengan apa yang kita rasakan. Prasangka kita, bahwa pihak lain tersebut telah merugikan diri kita. Maka, dia pun harus diberikan alasan setimpal.
Kenyataannya, prasangka kita salah. Siapapun yang melakukan kesalahan dalam kehidupan ini sebenarnya langsung menerima hukuman dari Tuhan. Termasuk diri kita yang menyimpan niat untuk membalas dendam adalah perbuatan yang salah sehingga kita pun mendapatkan hukuman Tuhan.
Ketika seseorang melakukan kejahatan sekecil apapun, bahkan meski masih berupa dan berbentuk niat sekalipun, seketika kita mendapatkan hukuman. Bayangan kita, ketika seorang mencuri barang yang kita miliki, ia bahagia dengan mendapatkan benda tersebut. Kenyataannya tidaklah demikian.
Ketika pihak lain berbuat sesuka hati terhadap kita, kita berprasangka betapa enaknya pihak tersebut mendapatkan keuntungan dari perilaku tersebut. Maka, tumbuhlah alasan untuk memiliki dendam, kebencian, iri hati ataupun kedengkian. Prasangka yang salah, karena faktanya banyak hasil riset menyebabkan perilaku tersebut banyak menimbulkan ketegangan, baik bagi diri sendiri maupun dirinya dengan pihak lain.
Bagaimana Hukuman Itu Dilimpahkan
Saya sangat terkesan ketika membaca hasil studi dari Hans Sele. Bagaimana kondisi stress terjadi. Maka, stress akan menimbulkan ketegangan di dalam fisik. Ketika fisik mengalami ketegangan secara terus-menerus karena dampak stress, maka fisik mengalami kelelahan, yang pada akhirnya kehilangan energi. Energi yang hilang melemahkan sistem kekebalan tubuh terhadap datangnya penyakit. Walhasil, ia pun mudah mengalami sakit.
Hasil studi lainnya adalah yang ditemukan oleh Herbet Benson. Bagaimana ia merasa takjub terhadap orang-orang yang didiagnosis memiliki penyakit mematikan dan umurnya hanya bertahan beberapa minggu ke depan, ternyata tiba-tiba mengalami kesembuhan secara dadakan. Sesuatu yang mustahil menurut ranah medis-kedokteran. Bagaimana pun, agar sembuh dari penyakit, maka seseorang itu haruslah diobati. Tetapi, pasien tersebut bisa sembuh meski secara pengobatan sudah tidak ada yang bisa diharapkan. Rahasianya sangat sederhana dan diketahui secara umum oleh banyak orang, pasien-pasien yang mengalami kesembuhan dadakan tersebut, ternyata menyimpan koleksi hati dan pikiran yang dipenuhi keimanan dan keyakinan. Luar biasa.
Hasil riset yang tak kalah menakjubkan adalah hasil riset W ise Richard. Di mana, ia menemukan bahwa orang-orang yang beruntung dan orang-orang yang kerap mengalami nasib sial berjalan secara rasional. Tidak semata-mata soal takdirnya memanglah demikian.
Bagaimana kunci rahasianya? Orang-orang beruntung adalah orang-orang yang di dalam dirinya, selalu memberikan prasangka yang baik atas semua peristiwa kehidupan yang dialami, meski ia mengalami peristwa buruk ia selalu mengambil sisi kebaikan di dalam peristiwa buruk tersebut. Sementara orang yang sial, selalu berprasangka buruk atas pengalaman kehidupannya, bahkan meskipun pengalaman tersebut berisi hal-hal yang baik sekalipun.
Kenyataan ini semakin membuka mata, ketika saya membaca literatur dari buku “Quantum Ikhlas”-nya Erbe Sentanu. Ketika seseorang banyak mencatat hal-hal baik dan mensyukuri dengan ikhlas pada peristiwa-peristiwa buruknya, maka kejadian-kejadian baik akan beruntun datang kepada orang tersebut.
Dengan arti lain, jika agama mengajarkan manusia untuk banyak bersyukur, menerima keadaan dengan ikhlas dan mengambil pelajaran dan hikmah di dalamnya, maka Tuhan akan melipatgandakan pahala atas orang tersebut, pahala di akhirat, dan pahala di dunia berupa hidup yang beruntung. Jauh dari penyakit, dan jauh dari paradigma buruk orang lain.
Dan bagi yang menyimpan kebencian, iri hati, dendam, dan niat buruk dalam setiap harinya, sesungguhnya ia sedang memasukkan dirinya ke dalam neraka, yang berupa rasa sesak karena beban dendam, benci, iri hati, dan prasangka yang ia simpan dan catat setiap harinya di dalam sanubar dan pikirannya. Fakta ini sudah disodorkan oleh hasil studi Hans Seyle dan Herbet Benson.
Sebagai catatan terakhir, adalah pengalaman saya ketika belajar teknik EFT-nya yang dirumuskan ulang oleh Ahmad Faiz Zainuddin dengan SEFT-nya. EFT adalah teknik bagaimana menghilangkan emosi-emosi buruk secara praktis serta cepat yang berada dan tersimpan dalam batin dan pikiran seseorang.
Dalam beberapa kali kasus yang saya lihat dengan mata kepala, banyak yang semula didiagnosis tak sembuh atau sulit sembuh, cukup dengan teknik menghilangkan emosi-emosi buruk tersebut, maka ketika emosi-emosi buruk hilang, orang yang diterapi tiba-tiba mengalami proses kesembuhan yang signifikan.
Ini artinya apa? Apakah kita akan segera mengucapkan selamat tinggal pada pikiran-pikiran dan perilaku buruk, ataukah kita akan tetap memeliharanya di dalam pikiran? Seperti hasil studi Wise Richard, nasib untung dan sial adalah pilihan. pilihan pikiran. Pilihan hati. Pilihan perbuatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar