Percayakah
Anda bahwa dosa dan pahala, kenyataannya sungguh-sungguh tak hanya
dilimpahkan di akhirat. Namun juga di kehidupan nyata yang sedang kita
jalani ini. Kerapkali organ badan kita dibakar dalam api neraka?
Terdapat fenomena yang marak aksi-aksi untuk menyadarkan sekelompok orang agar segera saja beriman kepada Tuhan seketika itu juga. Bahkan, kalau perlu dengan menggunakan cara-cara yang memaksakan diri.
Bawa
pentungan untuk dipentungkan misalnya. Pesan yang ingin disampaikan
barangkali jika dibentuk dalam format kalimat, mungkin semacam ini: ayo cepatlah dan sekarang sajalah kalian sadar. Dan jadilah sekumpulan orang beriman!
Dengan
cara-cara demikian mereka berpikir sekelompok orang akan segera beriman
dan sontak bersujud kepada Tuhannya dengan serta-merta. Seketika.
Tetapi memang sungguh. Cara-cara demikian itu sudah lama ditinggalkan
oleh Tuhan.
Ini
fakta luar biasa. Bagi saya, entah menurut Anda. Bahwa Tuhan itu ada,
bahwa akhirat itu nyata, sudah disadari dan dimengerti secara umum. Tak
ada hal-hal baru. Sudah banyak orang yang mengetahuinya. Sudah bukan mengungkap hal rahasia.
Sudah
menjadi pengetahuan umum! Termasuk bahwa Tuhan sudah menanggalkan
cara-cara menegur hamba-hamba-Nya dengan cara-cara yang biasa Dia
lakukan di era Nabi-Nabi terdahulu: Nabi Nuh dengan banjirnya, Nabi Musa
dengan tongkatnya, atau Nabi Luth dengan gempanya.
Tetapi
memang sungguh. Ini tetap menarik hati dibincangkan. Dan menurut saya,
hal-hal umum yang sudah bukan rahasia lagi, biasanya tidak serta merta
diikuti oleh pemahaman yang layak. Makanya, tidak sedikit orang
mengetahui sesuatu, tetapi hanya tahu saja. Selebihnya, ia hanya tahu.
Tidak menjangkau kesadaran puncak. Makanya, seberapa banyak kumpulan
petuah, hanya segelintir yang mau mengambilnya kecuali hanya masuk
telinga belaka. Ini benaran kejadian.
Begini,
mula-mula disebutkan bahwa segala sesuatu itu tergantung fakta dan
rasionalisasinya. Dan konon, di zaman para Nabi terdahulu, kesadaran
hanya akan tercapai sempurna bila ada kekuatan mukjizat di dalam
dakwahnya, batu tiba-tiba menjadi sekumpulan roti misalnya. Atau,
bagaimana seekor kodok lalu mendadak menjadi kupu-kupu, barulah
sekumpulan umat menjadi segolongan orang beriman.
Tetapi
di zaman Nabi Muhammad ini, justru sebaliknya. Sekumpulan kodok yang
dadakan jadi kupu-kupu belum tentu mampu memberimankan seseorang.
Sebaliknya, alih-alih menjadi hamba-hamba yang beriman, yang terjadi
mereka malah datang dengan sekumpulan rasa penasaran dan berondongan
pertanyaan: apa iya ada kodok tahu-tahu menjadi kupu-kupu? Boleh jadi,
mereka akan masuk ke dalam perpustakaan dan bisa bertahun-tahun di dalam
laboratorium.
Demikianlah.
Tetapi itulah uniknya. Umat zaman ini memang aduhai. Mereka beriman
bukan oleh sebab keajaiban. Tetapi oleh sebab akal-pikirnya. Aneh sekali
bukan? Tentu sangatlah aneh. Coba Anda tengok kejadian bencana alama
akhir-akhir ini.
Lemparan
sekumpulan batu api yang dimuntahkan oleh Gunung meletus, apakah mampu
menjadikan seseorang beriman? Ia justru mendatangkan sekelompok
peneliti. Mereka justru mendatangi tempat asal batu api dimuntahkan.
Inilah kaidah keimanan di zaman modern sekarang. Padahal kerap
disebutkan di dalam kitab suci, lemparan batu api kerap diberikan kepada
sekelompok hamba-hamba yang enggan beriman.
Ah,
terlalu bombastis saya kita bicara soal bencana. Marilah kita
berbincang soal keseharian saja yang bisa wawasan baru soal pahala-dosa,
neraka-surga di zaman baru umat manusia ini. Karena di setiap saatnya kita mengalaminya dalam keseharian, tetapi kita cenderung tak menyadari berlangsungnya proses tersebut.
Alasan
kita memiliki atau menyimpan beberapa koleksi kebencian, dendam, iri
hati dan dengki, sesungguhnya disebabkan karena kita pernah atau sempat telah
diperlakukan secara kurang adil, merasa disakiti oleh pihak lain.
Sehingga merasa punya alasan cukup kuat untuk membenci, mendendam,
merasa perlu untuk menyimpan iri hati dan dengki.
Kemudian
kita merasa berhak untuk melakukan pembalasan agar pihak lain tersebut
merasakan hal yang sama dengan apa yang kita rasakan. Prasangka kita,
bahwa pihak lain tersebut telah merugikan diri kita. Maka, dia pun harus
diberikan alasan setimpal.
Kenyataannya,
prasangka kita salah. Siapapun yang melakukan kesalahan dalam kehidupan
ini sebenarnya langsung menerima hukuman dari Tuhan. Termasuk diri kita
yang menyimpan niat untuk membalas dendam adalah perbuatan yang salah
sehingga kita pun mendapatkan hukuman Tuhan.
Ketika
seseorang melakukan kejahatan sekecil apapun, bahkan meski masih berupa
dan berbentuk niat sekalipun, seketika kita mendapatkan hukuman.
Bayangan kita, ketika seorang mencuri barang yang kita miliki, ia
bahagia dengan mendapatkan benda tersebut. Kenyataannya tidaklah
demikian.
Ketika
pihak lain berbuat sesuka hati terhadap kita, kita berprasangka betapa
enaknya pihak tersebut mendapatkan keuntungan dari perilaku tersebut.
Maka, tumbuhlah alasan untuk memiliki dendam, kebencian, iri hati
ataupun kedengkian. Prasangka yang salah, karena faktanya banyak hasil
riset menyebabkan perilaku tersebut banyak menimbulkan ketegangan, baik
bagi diri sendiri maupun dirinya dengan pihak lain.
Bagaimana Hukuman Itu Dilimpahkan
Saya
sangat terkesan ketika membaca hasil studi dari Hans Sele. Bagaimana
kondisi stress terjadi. Maka, stress akan menimbulkan ketegangan di
dalam fisik. Ketika fisik mengalami ketegangan secara terus-menerus
karena dampak stress, maka fisik mengalami kelelahan, yang pada akhirnya
kehilangan energi. Energi yang hilang melemahkan sistem kekebalan tubuh
terhadap datangnya penyakit. Walhasil, ia pun mudah mengalami sakit.
Hasil
studi lainnya adalah yang ditemukan oleh Herbet Benson. Bagaimana ia
merasa takjub terhadap orang-orang yang didiagnosis memiliki penyakit
mematikan dan umurnya hanya bertahan beberapa minggu ke depan, ternyata
tiba-tiba mengalami kesembuhan secara dadakan. Sesuatu yang mustahil
menurut ranah medis-kedokteran. Bagaimana pun, agar sembuh dari
penyakit, maka seseorang itu haruslah diobati. Tetapi, pasien tersebut
bisa sembuh meski secara pengobatan sudah tidak ada yang bisa
diharapkan. Rahasianya sangat sederhana dan diketahui secara umum oleh
banyak orang, pasien-pasien yang mengalami kesembuhan dadakan tersebut,
ternyata menyimpan koleksi hati dan pikiran yang dipenuhi keimanan dan
keyakinan. Luar biasa.
Hasil riset yang tak kalah menakjubkan adalah hasil riset W ise
Richard. Di mana, ia menemukan bahwa orang-orang yang beruntung dan
orang-orang yang kerap mengalami nasib sial berjalan secara rasional.
Tidak semata-mata soal takdirnya memanglah demikian.
Bagaimana
kunci rahasianya? Orang-orang beruntung adalah orang-orang yang di
dalam dirinya, selalu memberikan prasangka yang baik atas semua
peristiwa kehidupan yang dialami, meski ia mengalami peristwa buruk ia
selalu mengambil sisi kebaikan di dalam peristiwa buruk tersebut.
Sementara orang yang sial, selalu berprasangka buruk atas pengalaman
kehidupannya, bahkan meskipun pengalaman tersebut berisi hal-hal yang
baik sekalipun.
Kenyataan
ini semakin membuka mata, ketika saya membaca literatur dari buku
“Quantum Ikhlas”-nya Erbe Sentanu. Ketika seseorang banyak mencatat
hal-hal baik dan mensyukuri dengan ikhlas pada peristiwa-peristiwa
buruknya, maka kejadian-kejadian baik akan beruntun datang kepada orang
tersebut.
Dengan
arti lain, jika agama mengajarkan manusia untuk banyak bersyukur,
menerima keadaan dengan ikhlas dan mengambil pelajaran dan hikmah di
dalamnya, maka Tuhan akan melipatgandakan pahala atas orang tersebut,
pahala di akhirat, dan pahala di dunia berupa hidup yang beruntung. Jauh
dari penyakit, dan jauh dari paradigma buruk orang lain.
Dan
bagi yang menyimpan kebencian, iri hati, dendam, dan niat buruk dalam
setiap harinya, sesungguhnya ia sedang memasukkan dirinya ke dalam
neraka, yang berupa rasa sesak karena beban dendam, benci, iri hati, dan
prasangka yang ia simpan dan catat setiap harinya di dalam sanubar dan
pikirannya. Fakta ini sudah disodorkan oleh hasil studi Hans Seyle dan
Herbet Benson.
Sebagai
catatan terakhir, adalah pengalaman saya ketika belajar teknik EFT-nya
yang dirumuskan ulang oleh Ahmad Faiz Zainuddin dengan SEFT-nya. EFT
adalah teknik bagaimana menghilangkan emosi-emosi buruk secara praktis
serta cepat yang berada dan tersimpan dalam batin dan pikiran seseorang.
Dalam
beberapa kali kasus yang saya lihat dengan mata kepala, banyak yang
semula didiagnosis tak sembuh atau sulit sembuh, cukup dengan teknik
menghilangkan emosi-emosi buruk tersebut, maka ketika emosi-emosi buruk
hilang, orang yang diterapi tiba-tiba mengalami proses kesembuhan yang signifikan.
Ini
artinya apa? Apakah kita akan segera mengucapkan selamat tinggal pada
pikiran-pikiran dan perilaku buruk, ataukah kita akan tetap
memeliharanya di dalam pikiran? Seperti hasil studi Wise Richard, nasib
untung dan sial adalah pilihan. pilihan pikiran. Pilihan hati. Pilihan
perbuatan.